SIDEBAR
»
S
I
D
E
B
A
R
«
Sebuah “Pertengkaran”
Jun 5th, 2014 by hardi santosa

Pertengkaran luar biasa yang berbuah kegalauan itu terjadi antara hati, pikiran dan nafsu. Kita mulai dari hati dulu, coba kita bertanya apa kabar hati ini? sebuah catatan sang mujahid ilmi yang merupakan pesan dari abi akan menjawab pertanyaan kita tentang kabar hati.

“Kata abi, yang namanya kata hati itu tidak pernah salah.
Kata abi, yang namanya kata hati itulah yang harus diikuti
kata abi, jangan sampai melawan kata hati, karena kalau dilawan yang ada hati kita yang malah keras
Kalau dilawan, hati kita akan kehilangan sensitifnya..
Tapii… sekarang saya pun bingung apa kata hati saya
Sekarang saya pun jadi tidak tahu mana yang baik dan buruk
Mengikuti kata hati, hati saya berkata untuk tidak egois
Mengikuti kata hati, hati saya berkata jangan pedulikan apa yang orang lain akan pikirkan.
Mengikuti kata hati… aaaahhhh.. malah galau kan.
Mengikuti kata hati.. kata hati.. kata hati..
Masalahnya saya gak tau apa ini kata hati atau kata akal dan nafsu?
Oke kata hati, kabar hati ini ternyata sedang bimbang dalam kegaulan (apa bedanya bimbang sama galau? itulah pertengkaran). Kabar hati ini sudah lama menghilang. menghilang dalam kerasnya cobaan dan lemahnya iman dalam keistiqomahan. ya hati ini lemah dalam beristiqamah, kembali mengingat kata hati yang terakhir kali berkata, 7 tahun yang lalu, ya 7 tahun yang lalu hati ini pernah berkata  saat saya masih duduk di bangku SMP.
Ceritanya begini, saat pulang sekolah kulihat seorang ibu tua menggandeng tangan anaknya yang berpakaian seragam SD dijalan. Kondisi ibu dengan peluh dan keringat bercucuran namun tetap semangat dalam melangkah menemani sang anak untuk mencari ilmu. melihat kejadian itu hati ku berteriak… menangis… ” har bocengin tuh… ” aku hanya diam. hatiku begitu dalam dalam menjerit membuatku semakin lemah. ya aku semakin lemah dan menghukum diri ini yang sangat tak berarti (saat itu aku masih membonceng karena tidak bisa mengendarai motor). kenapa aku menghukum diri sampai segitunya? Karena mimpi itu, ya sebuah mimpi yang sangat indah. mimpi yang hadir ditengah malam dikala sajadah dibentangkan. aku sudah menginjak masa remaja namun kehadiranku tak memberikan arti apa apa. imanku melemah, istiqamahku goyah. Kala malam datang dengan sang rembulan bersinar terang, ditengah kesunyian, ku kembali bentangkan sajadah. karena lemahnya iman, ya sekali lagi karena lemahnya iman, karena lemahnya iman dan hilangnya keistiqamahan, malam itu aku bermunajat ” ya rabbi, diri ini lemah, sangat lemah sekali, aku tak sanggup memiliki hati yang begitu mulia ini, aku tak sanggup mengemban amanahmu yang begitu indah dengan diri yang kotor dan hina dina ini. ya rabbi demi menyelamatkan syariatmu,  aku rela menjadi pelajaran bagi umat ini agar mereka memperbaiki keimanannya agar mereka merasakan keindahan syariatmu dan betapa sempurnanya engkau, ya rabbi aku rela jika memang raga ini benar-benar tak kuat lagi. ambilah hati ini. hati yang mulia ini adalah dari-Mu maka ku kembalikan ini pada-Mu pada malam ini, pada saat aku terpuruk dalam dosa-dosa dan lemahnya raga dalam perjuangan menjadi panjiMu. Ya rabbi, jika keindahan mimpi itu adalah janji dariMu dan menjadi kenyataan. Maka aku siap mengemban amanah itu. tapi itu akan aku jalani saat saat telah menghilangkan noda-noda kemaksiatan ini, ketika aku telah memiliki tekad dan kekuatan raga untuk membawa hati yang mulia ini. aku tak mau menodai hati ini, karena itu ambilah hati ini ambilah ya rabbiii………………. ambilah ambilah……. aku tak pantas memiliki hati ini, ambilah ya rabbi. Jika janji Mu benar, maka bantulah hamba dalam membersihkan noda-noda dan latihlah hamba dalam bertekad. dan bila itu tiba maka hambaMu ini siap menerima amanah-Mu dengan hati yang menjadi anugrah terbaik untuk hamba”.
end… ya setelah malam itu aku tak tau kabar hatiku. Kini aku tersadar, 7 tahun kemudian setelah kejadian itu, noda noda itu tak pernah hilang. hapus muncul lagi hapus muncul lagi, itu ternyata karena saya adalah manusia biasa yang tak pernah luput dari dosa. ya saya hanya manusia biasa, agar menjadi mulia maka mendekatlah pada sang pencipta, dengan bertaubat dan selalu berharap yang terbaik padaNya. Kegighan dalam istiqamah adalah jalan indah menuju sang pencipta, semakin mesra apabila perjalanan itu diiringi oleh hati yang mulia, ya kemesraan itu tidak menodai hati ini, karena hati ini pun ingin berarti untuk raga ini, hati pun mengerti kondisi raga ini, dia tidak ingin hanya disimpan dan memerintah, dia ingin berjuang dan berkorban bersama, tak apa ada noda didirinya yang penting dengan dirinya raga bisa tersujud menghadap sang pencipta, dengan adanya hati raga jadi mengerti kekuasaan sang pencipta yang mampu menghapuskan sebanyak apapun noda. ingat dengan kata ini ” wahai masalah, aku memiliki Allah yang maha besar” atau ” wahai pendosa, aku memiliki Allah yang maha pengampun atas segala dosa” jadi janganlah kau tertipu oleh besar dan banyaknya dosa. jangan kau lemahkan iman dan keistiqamahan dalam berjihad karena kau melihat d0sa-d0sa mu begitu besar dan banyak, ketika hati ada dalam raga ini maka hati akan membisikan dengan bisikan yang begitu mesra untuk berkata ” wahai dosa, sesungghunya aku memiliki Allah yang maha pengampun atas segala dosa, yang maha pengasih lagi maha penyayang”. ya hati akan membuat raga ini semakin kuat.
Kini, 7 tahun berlau, apakah hati ini kembali padaNya? atau malah hati ini mengeras? saya harap yang pertama dan naudzubillah mindzalik untuk yang kedua. ya rabbi, hamba bertobat padaMu, ampunilah hambaMu yang lemah dan berlumur dosa ini. Tunjukilah jalan lurusMu, ridhoi dan bimbinglah hambaMu ini, berkahi segala urusan hamba.

“Masalahnya saya gak tau apa ini kata hati atau kata akal dan nafsu?” nah itu pertanyaan bagus, pertanyaan yang berbobot dalam sebuah “pertengkaran”. tiga buah kutub yang akan menentukan kestabilan, karenanya harus benar benar dijaga dengan sebaik-baiknya. kenapa harus dijaga? karena kita adalah manusia, ya manusia biasa tepatnya, dimana ketiga unsur tersebut adalah penentu kestabilan hidup ini. Dengan adanya kutub-kutub itu maka filter yang kita miliki adalah filter dari suatu inputan yang tak hingga. ya benar, Allah melimpahkan rahmat pada kita yang tak dapat kita hitung berapa jumlahnya, karena itu filter yang harus kita miliki adalah filter yang mampu menyaring data yang tak hingga ini. Filter yang dapat menyaring tak hinggaan memiliki kutub-kutub, ya kutub-kutub yang akan menentukan kestabilan dari filter, atau kestabilan dari kehidupan kita.

jadi setelah kita melihat kabar hati, mari kita ajak hati ini untuk hadir dan membuat kestabilan dalam kehidupan ini. selanjutnya kita akan bertanya kabar pikiran dan nafus. apa kabarnya?

untuk nafsu, dia memiliki kehidupan bebas, ya karena tak ada sang hati dia bukannya lenyap malah jadi bebas dan membuat sistem kehidupan ini tidak seimbang. lalu bagai mana dengan pikiran?

pikiran tenggelam dalam kegalauan dalam mencari cahaya kebenaran, tenggelam karena bebasnya nafsu mebuat gelombang kegelapan semakin besar. sehingga cahaya itu semakin redup dan redup.

Pikiran dan nafsu, pengendalimu adalah ilmu. ya ilmu, ilmu mebuat pikiran dapat menemukan cahaya dan gelombang nafsu menjadi bersahabat sesuai irama kestabilan hidup. lantas dari mana ilmu itu kita peroleh? buku, guru, pengalaman? atau apa adalagi selain itu, silahkan menawar. mari kita dengarkan apa kata sang imam,

Imam Malik mengatakan,”Ilmu itu datang dari kalian (baytun nubuwah). Jika kalian memuliakannnya, maka ia menjadi mulia. Jika kalian merendahkannya ia menjadi hina. Ilmu harus didatangi, bukan mendatangi.”

pengalaman adalah guru terbaik dalam hidup, buku adalah jendela dunia (guru), lalu siapakah guru? ya pertanyaan ini yang membaut “pertengkaran” semakin rumit dan dalam. kenapa? karena aku mulai kehilangan karisma dari sang guru, kok bisa? yah pertanyaannya membuat semakin rumit “pertengkaran” ini. namun setelah mengingat kata sang imam, ada tali merah yang dapat kita ambil.

Karisma sang guru yang semakin melemah. Hormatilah guru, maka karismanya akan tetap terjaga dan menjadi cahaya penerang.

Yogyakarta, kota pelajar,ya benar itu kota pelajar karena disini disetiap sudut berisi pelajar, ada pelajar pasti ada pengajar (guru) pasti jogja ini banyak berisi orang berilmu. so sesuai kata sang imam apa yang harus kita lakukan kepada ilmu?

kita harus datangi ilmu, kita harus betemu dan belajar langsung dari sang guru. guru juga manusia biasa seperti kita, ilmu adalah yang membuatnya menjadi mulia. ilmu itu untuk diamalkan, bukan dijual belikan? loh loh kok jadi jleb ngonoh? ya “pertengkaran” ini terjadi karena hidup ini ada kebutuhan yang harus dipenuhi. ketika membenturkan ilmu dan kebutuhan maka inilah jadinya. tapi hal yang wajar dan bukan sebuah jual beli ketika kita datang ke guru untuk belajar. lalu apa yang disebut jual beli ilmu? buku. ya buku, saat ini jadi alasan karena aku tak begitu suka membaca buku. kenapa? lah wong gurune nang kene moso maca bukune? (logat jawa lan ngapak)

“lah kan gurunya disini, masa baca bukunya? ” kita segmentasi antara guru dan buku. kok segmentasi apa itu? ya segmentasi itu memisahkan, membedakan. okee

saya berpendapat bahwa kegiatan belajar mengajar bukanlah hal transaksi jual beli ilmu, kegiatan belajar mengajar adalah ladang mengamalkan ilmu. sang guru, kita butuh guru dari ada buku, karena ketika kita mendalami ilmu ada sang guru, saat terjadi kesalahan dalam penafsiran kita sang guru bisa mengingatkan kita. lalu bagaimana jika buku? apa buku akan mengingatkan kita?

coba, apa nabi muhammad belajar dari Al Quran? (loh dalem banget, jangan salah persepsi ya, maksudnya disini kitab/buku). sang nabi belajar pada guru yaitu Sang Khaliq, ketika beliau salah sang Khaliq menegur, dan itu teguran itu dapat kita pelajari dari Al Quran.

jadi ilmu itu akan semakin bagus ketika kita belajar langsung dari sang Guru, bukan buku. hal ini sebagai wujud penghormatan kita dan ladang ibadah bagi kita serta sang guru.

saya berpendapat ketika belajar hanya dari buku, maka itu adalah transaksi jual beli ilmu. bukan mengamalkan ilmu. (buku tanpa dibimbing guru), transaksi jual beli itu makhruh hukumnya. ini terbukti, ketika belajar dari buku dan kita salah dalam menafsirkannya buku tidak bisa menegur kita, akhirnya kita bisa tenggelam dalam kesesatan. nah loh jadi sesat. ya iyalah, kan transaksi jual beli. hukum makhruh karena dapat berdampak buruk.

berbeda denang amal, kegiatan belajar mengajar ketika salah (guru menegur) maka kesalahan kita dianggap satu pahala. loh kok pahala? karena belajar adalah jihad, dalam jihad mencari ilmu kita melakukan ijtihad, ketika ijtihad salah itu dianggap satu kebaikan. tuh mulia sekali kan kegiatan belajar mengajar? ilmu itu didatangi. ilmu itu asalnya dari kamu (guru).

mari kita hormati dan jungjung tinggi sang guru. Yogyakarta berisi banyak orang-orang berilmu yang dapat kita jadikan guru.

“Ilmu harus didatangi, bukan mendatangi.” jadi semangat mencari ilmu, semangat rajin datang ke kegiatan belajar mengajar. hargai guru dan muliakan. karena itulah jalan menuju keberkahan ilmu. Datanglah pada sang guru, jangan hanya mempelajari buku-buku tanpa adanya sang guru, ilmu itu untuk diamalkan dan memberikan kemulian, bukan untuk dijual belikan dan menjadi jalan kesesatan (jika salah penafsiran).

:)” hormati guru mu sayangi teman, itulah tanda nya kau murid budiman.”

teman hadir ketika kita mendatangi ilmu, datang dalam kegiatan belajar mengajar. bukan ilmu (buku) datang pada kita. kalau ilmu (buku) datang pada kita apakah ada teman datang juga untuk belajar bersama? saya rasa lebih nyaman membaca satu buku sendiri.

tapi jangan salahkan buku, buku adalah media belajar sang sangat efektif. tapi ya itu tetap harus ada sang guru. agar apa yang tertuang dalamnya dipahami sesuai dengan yang diinginkan dari sang penulis (guru).

sekian dulu deh, ini kesimpulan hari ini, kurang lebihnya saya mohon maaf, tidak bermaksud menyalahkan orang-orang, ini adalah “pertengkaran” yang saya alami (saya, bearti terjadi khusus didiri saya bukan pada dan dengan orang lain). Dalam proses belajar kita akan selalu mendapatkan ilmu dan kebenaran, mungkin masih ada kesalahan dalam tulisan ini jadi nanti akan ada kebenaran yang muncul, selama kita tetap istiqomah dalam berjuang.

“Aaah ilmu.. dengannya lah seharusnya kita menjadi mulia.”

Lagi-lagi saya jadi teringat perkataannya Ustadz Sholihun yang mak jleb-jleb. Beliau pernah mengatakan begini kira-kira : ”saya sedih sama ikhwan dan akhwat yang kesana-kemari masukin lamaran kerja untuk mencari kerja. Ya Allah, kalian itu punya ilmu. Pekerjaan yang mendatangi kalian, bukan kalian yang mencari”.

“Aaah ilmu.. dengannya lah seharusnya kita menjadi mulia.”

#Semangat #SangMujahidIlmi

 

Secarik Surat Dari Ummi
May 29th, 2014 by hardi santosa

“Orang bilang anakku seorang aktivis. Kata mereka namanya tersohor dikampusnya sana. Orang bilang anakku seorang aktivis. Dengan segudang kesibukan yang disebutnya amanah umat. Orang bilang anakku seorang aktivis. Tapi bolehkah aku sampaikan padamu nak? Ibu bilang engkau hanya seorang putra kecil ibu yang lugu. Anakku, sejak mereka bilang engkau seorang aktivis ibu kembali mematut diri menjadi ibu seorang aktivis. Dengan segala kesibukkanmu, ibu berusaha mengerti betapa engkau ingin agar waktumu terisi dengan segala yang bermanfaat. Ibu sungguh mengerti itu nak, tapi apakah menghabiskan waktu dengan ibumu ini adalah sesuatu yang sia-sia nak? Sungguh setengah dari umur ibu telah ibu habiskan untuk membesarkan dan menghabiskan waktu bersamamu nak,tanpa pernah ibu berfikir bahwa itu adalah waktu yang sia-sia. Anakku, kita memang berada disatu atap nak, di atap yang sama saat dulu engkau bermanja dengan ibumu ini. Tapi kini dimanakah rumahmu nak? Ibu tak lagi melihat jiwamu di rumah ini. Sepanjang hari ibu tunggu kehadiranmu dirumah, dengan penuh doa agar Allah senantiasa menjagamu. Larut malam engkau kembali dengan wajah kusut. Mungkin tawamu telah habis hari ini, tapi ibu berharap engkau sudi mengukir senyum untuk ibu yang begitu merindukanmu. Ah, lagi-lagi ibu terpaksa harus mengerti, bahwa engkau begitu lelah dengan segala aktivitasmu hingga tak mampu lagi tersenyum untuk ibu. Atau jangankan untuk tersenyum,sekedar untuk mengalihkan pandangan pada ibumu saja engkau engkau, katamu engkau sedang sibuk mengejar deadline. Padahal, andai kau tahu nak,ibu ingin sekali mendengar segala kegiatanmu hari ini, memastikan engkau baik-baik saja,memberi sedikit nasehat yang ibu yakin engkau pasti lebih tahu. Ibu memang bukan aktivis sekaliber engkau nak, tapi bukankah aku ini ibumu yang 9 bulan waktumu engkau habiskan didalam rahimku. Anakku, ibu mendengar engkau sedang begitu sibuk nak. Nampaknya engkau begitu mengkhawatirkan nasib organisasimu, engkau mengatur segala strategi untuk mengkader anggotamu. Engkau nampak amat peduli dengan semua itu, ibu bangga padamu. Namun, sebagian hati ibu mulai bertanya nak, kapan terakhir engkau menanyakan kabar ibumu ini nak? Apakah engkau mengkhawatirkan ibu seperti engkau mengkhawatirkan keberhasilan acaramu? Kapan terakhir engkau menanyakan keadaan adik-adikmu nak? Apakah adik-adikmu ini tidak lebih penting dari anggota organisasimu nak? Anakku, ibu sungguh sedih mendengar ucapanmu. Saat engkau merasa sangat tidak produktif ketika harus menghabiskan waktu dengan keluargamu. Memang nak, menghabiskan waktu dengan keluargamu tak akan menyelesaikan tumpukan tugas yang harus kau buat, tak juga menyelesaikan berbagai amanah yang harus kau lakukan. Tapi bukankah keluargamu ini adalah tugasmu juga nak? bukankah keluargamu ini adalah amanahmu yang juga harus kau jaga nak? Anakku, ibu mencoba membuka buku agendamu. Buku agenda sang aktivis. Jadwalmu begitu padat nak, ada rapat disana sini, ada jadwal mengkaji, ada jadwal bertemu dengan tokoh-tokoh penting. Ibu membuka lembar demi lembarnya, disana ada sekumpulan agendamu, ada sekumpulan mimpi dan harapanmu. Ibu membuka lagi lembar demi lembarnya, masih saja ibu berharap bahwa nama ibu ada disana. Ternyata memang tak ada nak, tak ada agenda untuk bersama ibumu yang renta ini. Tak ada cita-cita untuk ibumu ini. Padahal nak, andai engkau tahu sejak kau ada dirahim ibu tak ada cita dan agenda yang lebih penting untuk ibu selain cita dan agenda untukmu,putra kecilku. Kalau boleh ibu meminjam bahasa mereka, mereka bilang engkau seorang organisatoris yang profesional. Boleh ibu bertanya nak, dimana profesionalitasmu untuk ibu? Dimana profesionalitasmu untuk keluarga? Dimana engkau letakkan keluargamu dalam skala prioritas yang kau buat? Ah, waktumu terlalu mahal nak .Sampai-sampai ibu tak lagi mampu untuk membeli waktumu agar engkau bisa bersama ibu.. Setiap pertemuan pasti akan menemukan akhirnya. Pun pertemuan dengan orang tercinta, ibu, ayah, kakak dan adik . Akhirnya tak mundur sedetik tak maju sedetik. Dan hingga saat itu datang, jangan sampai yang tersisa hanyalah penyesalan. Tentang rasa cinta untuk mereka yang juga masih malu tuk diucapkan. Tentang rindu kebersamaan yang terlambat teruntai. Untuk mereka yang kasih sayangnya tak kan pernah putus, untuk mereka sang penopang semangat juang ini. Saksikanlah, bahwa tak ada yang lebih berarti dari ridhamu atas segala aktivitas yang kita lakukan.Karena tanpa ridhamu, Mustahil kuperoleh ridhaNya…”

Sang Mujahid Ilmi
May 14th, 2014 by hardi santosa

“Keutamaan orang berilmu atas ahli ibadah adalah seperti keutamaan bulan purnama atas seluruh bintang. Sesungguhnya para ulama adalah pewaris para Nabi, dan sesungguhnya para Nabi tidak mewariskan dinar dan dirham, akan tetapi mewariskan ilmu. Maka barangsiapa yang mengambilnya berarti telah mengambil bagian yang banyak.” [HR Abu Dawud dan Tirmidzi]

Senja di strata 1 adalah waktu yang indah bila mentari memperlihatkan senyumnya diufuk barat, wajahnya memerah seperti malu atau senang bisa bertatap wajah. Namun beda halnya ketika senja suasana teduh, awan bergumpal dan bergerak melayang bagai angan yang sedang memanjang entah kemana tujuan. tak ayal, badai kegalauan menerjang.

Menjalani senja dengan suasana berawan, terasa nyaman namun mengandung kegundahan, zona nyaman ini membuat hati terbuai untuk bersantai dan tenang. Bangunlah wahai sang Mujahid!!! aku terbangun dalam lamunan, aku sadar waktu sudah senja dan saatnya untuk kembali berjuang. Menata kembali semangat jihad, namun hal itu tak semudah membalikan telapak tangan, bila terlalu banyak pemikiran dan pertimbangan tak akan pernah menghasilkan perubahan. karena itu mulailah bergerak, karena dalam setiap gerak akan diikuti dengan pemikiran.

Sang Mujahid Ilmi, sebuah nama yang mewakili semangatku untuk berjihad mencari ilmu. Ilmu adalah sumber segala amal, jadi jelaslah betapa mulianya memiliki ilmu. Dengan ilmu kita bisa beramal, dengan amalan kita mempunyai investasi, baik investasi masa depan (akhirat) maupun investasi masa kini (dunia). Dengan ilmu, maka dimudahkan segala urusan.

stack!!!

entah mau menuliskan sebuah syair atau definisi, tapi ini adalah awal aku kembali mencoba menggoreskan Kalam Ilahi, dengan keimanan dan kesucian hati. Bismillah, memberi arti dari sebuah mimpi.

#EdisiRerun

Sebagai pemicu nih tak kasih : Keutamaan Ilmu dibandingkan harta

Diriwayatkan suatu hari sepuluh orang terpelajar mendatangi Imam Ali ra. Mereka ingin mengetahui mengapa ilmu lebih baik daripada harta dan mereka meminta agar masing-masing dari mereka diberikan jawaban yang berbeda. Imam Ali ra menjawab sebagaimana berikut:

[1] Ilmu adalah warisan Nabi, sebaliknya harta adalah warisan Firaun. Sebagaimana Nabi lebih unggul daripada Firaun, maka ilmu lebih baik daripada harta.

[2] Engkau harus menjaga hartamu, tetapi Ilmu akan menjagamu. Maka dari itu, Ilmu lebih baik daripada harta.

[3] Ketika Ilmu dibagikan ia semakin bertambah. Ketika harta dibagikan ia berkurang. Seperti itulah bahwa ilmu lebih baik daripada harta.

[4] Manusia yang mempunyai banyak harta memiliki banyak musuh, sedangkan manusia berilmu memiliki banyak teman. Untuk itu, ilmu lebih baik daripada harta.

[5] Ilmu menjadikan seseorang bermurah hati karena pandangannya yang luas, sedangkan manusia kaya dikarenakan kecintaannya kepada harta menjadikannya sengsara. Seperti itulah bahwa ilmu lebih baik daripada harta.

[6] Ilmu tidak dapat dicuri, tetapi harta terus-menerus terekspos oleh bahaya akan pencurian. Maka, ilmu lebih baik daripada harta.

[7] Seiring berjalannya waktu, kedalaman dan keluasan ilmu bertambah. Sebaliknya, timbunan dirham menjadi berkarat. Untuk itu, ilmu lebih baik daripada harta.

[8] Engkau dapat menyimpan catatan kekayaanmu karena ia terbatas, tetapi engkau tidak dapat menyimpan catatan ilmumu karena ia tidak terbatas. Untuk itulah mengapa ilmu lebih baik daripada harta.

[9] Ilmu mencerahkan pikiran, sementara harta cenderung menjadikannya gelap. Maka dari itu, ilmu lebih baik daripada harta.

[10] Ilmu lebih baik daripada harta, karena ilmu menyebabkan Nabi berkata kepada Tuhan “Kami menyembah-Nya sebagaimana kami adalah hamba-hamba-Nya”, sementara harta membahayakan, menyebabkan Firaun dan Nimrud bersikap congkak dengan menyatakan diri mereka sebagai Tuhan.

»  Substance:WordPress   »  Style:Ahren Ahimsa