SIDEBAR
»
S
I
D
E
B
A
R
«
Perhitungan Tahun Masehi vs Hijriah Dalam Kisah Ashabul Kahfi
Aug 7th, 2015 by hardi santosa

Kisah ashabul kahfi yang disebut dalam surat Al-Kahfi ayat 9 – 26 memang sangat menarik walaupun masih penuh dengan misteri. Hanya Allah yang tahu hal sebenarnya. Disini hanya akan diulas sisi ilmiahnya saja yang berkaitan dengan perhitungan tahun.

Ashabul Kahfi adalah beberapa pemuda yang mengimani Allah SWT sebagai Tuhan semesta alam. Jumlahnya mungkin tujuh orang ditambah dengan seekor anjing bernama Ar Raqim (Nama Ar-Raqim menurut salah satu mufasir, namun ada sebagian lagi yang mengartikan sebagai batu bersurat), ada pula yang mengatakan jumlahnya lebih sedikit dari itu. Namun hanya Allah lah yang tahu jumlahnya dan yang pasti jumlahnya tidak banyak (18:22). Mereka mengingkari keyakinan yang dianut oleh masyarakat mereka yang sebagian besar masih musyrik. Rajanya pun sangat kejam kepada orang-orang yang beriman kepada Allah sedangkan mereka saat itu hidup di tengah-tengah bangsanya sembari tetap menampakkan keimanan mereka. Ketika berkumpul sesama mereka, mereka sangat khawatir akan gangguan masyarakatnya (18:14-16).

Ketika bangun, mereka tak tahu pasti sudah berapa lama mereka tertidur. Ada yang berpendapat sehari ada yang perpendapat setengah hari. Karena mereka tidak suka berdebat, mereka bersepakat bahwa hanya Allah yang tahu hal yang sebenarnya. Kemudian salah seorang diantara mereka diutus untuk ke kota guna mencari makanan dan dipesankan agar berhati-hati (18:19). Maksudnya agar para penguasa Dzolim saat itu tidak mengetahui tentang keberadaan mereka, karena sekali mereka tahu maka tentunya akan dipaksa kembali untuk menganut kepercayaannya (18:20). Mereka masih berfikir zamannya belum berubah. Ketika ia membeli makanan yang diminta kawan-kawannya, uang yang dibawanya sudah tidak berlaku lagi dan ketika ia perhatikan sekitarnya, pakaian yang dikenakannya pun sudah berbeda sekali dengan saat itu.

Sebenarnya seberapa lamakah persisnya mereka tinggal di dalam gua? Tidak ada yang tahu pasti, karena hanya Allah lah yang tahu semuanya (18:26). Namun demikian di ayat sebelumnya Allah SWT berfirman: “Mereka tinggal di dalam gua selama 300 tahun, dan ditambah 9 tahun“(QS 18:25). Pertanyaan yang dapat diangkat dari ayat ini adalah “mengapa Allah tidak langsung menyatakan 309 tahun, tetapi 300 tahun ditambah 9 tahun?”. Kemungkinan besar hal itu berhubungan dengan sistem penanggalan syamsyiah dan qomariyah.

Menurut perhitungan astronomi, satu tahun adalah jangka waktu anatara musim hujan sampai musim hujan atau musim panas ke musim panas berikutnya. Karena musim dipengaruhi oleh perputaran bumi mengelilingi matahari, maka lebih tepat disebutkan bahwa 1 tahun adalah jangka waktu bumi mengelilingi matahari dalam satu putaran. Menurut perhitungan, bumi mengelilingi matahari dalam waktu 365, 2422 hari. Itu kira-kira 12 bulan.

Pada zaman dahulu orang menentukan jumlah hari dalam satu tahun adalah 365 hari. Sejak 45 SM, Julius Caesar (seorang Kaisar Romawi) menetapkan satu tahun adalah 365,25 hari. Kelebihan 0,25 hari itu dibulatkan setiap empat tahun sekali menjadi tambahan waktu 1 hari pada bulan februari yang kita kenal dengan istilah tahun kabisat (tahun panjang). Tahun kabisat ini ditentukan terjadi bila angka tahunnya habis dibagi 4, misalnya 1980, dst. Ini disebut cara Julius. Walaupun sebetulnya cara ini juga masih tidak tepat.

Ketidaktepatan panjang hari dalam satu tahun itu mengakibatkan musim makin lama makin bergeser. Sebenarnya jika dihitung perbedaannya sangat kecil yakni 365,2500-365,2422 = 0,0078 hari, tetapi dalam jangka ratusan tahun, perubahan musim itu semakin terasa terutama di negara-negara yang mengenal 4 musim seperti negara-negara eropa. Musim semi yang biasanya dimulai 25 maret, setelah ratusan tahun berubah jadi tanggal 21 maret. Ini baru diketahui pada tahun 325 masehi.

Karena kesalahan perhitungan itu dibiarkan, maka pada tahun 1582 musim semi semakin bergeser lebih jauh lagi menjadi tanggal 11 maret. Kali ini dilakukan perbaikan yang dikenal dengan Perbaikan Gregorius dengan tujuan untuk mengembalikan musim semi ke tanggal 21 maret. Hal ini dengan melakukan lompatan tanggal 4 oktober 1582 (kamis) menjadi tanggal 15 oktober 1582 (jumat). Menurut aturan ini, tahun kabisat perlu dihilangkan tiga kali setiap 400 tahun. Barulah setelah perbaiakan gregorius, ditetapkan bahwa 1 Tahun adalah sebesar 365,2425 hari. Dengan cara ini ditetapkan bahwa tahun kabisat adalah tahun bila angka tahunnya habis dibagi empat kecuali bila angka tahun itu kelipatan 100, harus habis dibagi 400. Misalnya tahun 1700, 1800, 1900 buka merupakan tahun kabisat karena tidak habis dibagi 400 walaupun habis dibagi 4.

Dalam kalender hijriah (qomariyah), satu tahun 12 bulan dan untuk setiap bulan lamanya 29,53 hari, maka 1 tahun hanya 354,36 hari. Ini berarti lebih pendek 11 hari dibandingkan tahun Masehi. Oleh karena itu awal puasa ramadhan selalu bergeser 11 hari lebih awal daripada tahun sebelumnya.

Oke,,,back to Kisah Ashabul Kahfi….Ternyata, maksud Allah dalam Alquran bahwa mereka ditidurkan selama 300 tahun ditambah 9 tahun bisa difahami sebagai tahun menurut kalender Masehi (syamsyiah) dan waktu menurut kalender Hijriah (komariah).

Satu kalender komariah berarti jangka waktu bumi mengelilingi matahari yaitu selama 365,24 hari. Berarti selam 300 tahun itu lamanya 300 x 365,2422 = 109.572 hari. Dalam satu tahun qomariyah berarti 12 bulan dan satu bulan adalah jangka waktu sejak purnama hingga purnama berikutnya, yaitu 29,53 hari. Dengan satu tahun komariah adalah 12 x 29,53 hari =354,36 hari. Dengan demikian, lama mereka tinggal di gua = 109.572/354,56 = 309 tahun!

Orang arab dahulu hanya mengetahui penanggalan tahun qomariyah, karena mereka adalah orang – orang yang tidak bisa baca – tulis. Adapun penanggalan tahun syamsiyah tidaklah diketahui di kalangan mereka. Lebih – lebih membandingkan antara penanggalan tahun syamsiyah dengan penanggalan tahun qomariyah. Isyarat yang teliti antara beda penanggalan matahari dengan bulan ini menunjukkan bahwa kitab ini datang dari Allah ‘Azza Wajalla….Allahu ‘alam

sumber : http://www.lingkaran.org/

Kalender Hijriah
Aug 1st, 2015 by hardi santosa

Sejarah Penanggalan Hijriah

Sampai saat wafat Rasulullah saw belum ada penetapan kalender Islam yang dipakai sebagai patokan penanggalan. Pada waktu itu, catatan yang dipergunakan kaum muslim belum seragam. Ada yang memakai tahun gajah, peristiwa bersejarah, yaitu tahun penyerangan Abrahah terhadap ka’bah dan kebetulan pada saat itu bertepatan dengan tanggal kelahiran Rasulullah saw. Ada pula yang menggunakan tahun diutusnya Rasulullah saw sebagai nabi, atau awal penerimaan wahyu. yang penting mereka belum mempunyai penanggalan yang tetap dan seragam. Pada zaman khalifah Abubakar ra sudah mulai para sahabat melontarkan gagasan tentang perlunya adanya penanggalan. tapi belum pula diterapkan.

Penetapan penanggalan yang dipakai oleh umat Islam dimulai pada zaman khalifah Umar ra. Menurut keterangannya, ide ini diterapkan setelah beliau menerima sepucuk surat dari Abu Musa al-asy’ari yang menjadi gubernur di Bashrah, isinya menyatakan ”Kami telah banyak menerima surat perintah dari anda tapi kami tidak tahu kapan kami harus lakukan. Ia bertanggal Sya’ban, namum kami tidah tahu Sya’ban yang mana yang dimaksudkan?”

Rupanya surat Abu Musa diterima oleh khalifah Umar ra sebagai saran halus tentang perlu ditetapkannya satu penanggalan (kalender) yang seragam yang dipergunakan sebagai tanggal bagi umat Islam.

Budaya penanggalan ini rupanya belum ada dalam Islam sedangkan penanggalan Masehi sudah diterapkan sebelum adanya Islam beberapa abad lalu.  Tapi Islam adalah agama yang menerima budaya dari luar semasih budaya itu baik dan tidak bertentangan dan keluar dari rel agama. contohnya; disaat Rasulullah saw berada di Madinah beliau melihat orang-orang Yahudi berpuasa pada tanggal 10 muharam. Beliau bertanya kenapa mereka berpuasa. Lalu dijawab karena hari itu nabi Musa as diselamatkan dari serangan Fir’aun. Rasulullah saw mejawab “kita lebih utama dari mereka atas nabi Musa”. Maka beliau menganjurkan umat Islam untuk berpuasa, dan dianjurkan pula berpuasa sebelumnya atau sesudahnya. Tujuanya untuk tidak bertasyabbuh (menyamakan) dengan Yahudi. Contoh lain, disaat Rasulullah saw mengirim surat kepada penguasa dunia, beliau disarankan untuk membubuhi surat-surat beliau dengan stempel, karena mereka tidak mau menerima surat-surat kecuali ada stempelnya. Nabi pun menerima saran tersebut. Lalu beliau membuat stempel yang berupa cincin tertulis “Muhammad Rasulullah”.

Peristiwa Hijrah Sebagai tonggak Kalender islam

Masalah selanjutnya adalah menentukan awal penghitungan kalender islam ini. Apakah akan memakai tahun kelahiran Nabi Muhammad saw., seperti orang Nasrani? Apakah saat kematian beliau? Ataukah saat Nabi diangkat menjadi Rasul atau turunnya Al Qur’an? Ataukah saat kemenangan kaum muslimin dalam peperangan?

Kemudian khalifah Umar ra menggelar musyawarah dengan semua sahabat Nabi saw untuk menetapkan apa yang sebaiknya dipergunakan dalam menentukan permulaan tahun Islam. Dalam pertemuan itu ada empat usul yang dikemukakan untuk menetapkan penanggalan Islam, yaitu :

1. Dihitung dari mulai kelahiran nabi Muhammad Saw
2. Dihitung dari mulai wafat Rasulullah saw
3. Dihitung dari hari Rasulullah saw menerima wahyu pertama di gua Hira
4. Dihitung mulai dari tanggal dan bulan Rasulullah melakukan hijrah dari Mekkah ke Madinah

Usul pertama, kedua dan ketiga ditolak dan usul yang terakhir merupakan usul yang diterima suara banyak. Usul ini diajukan oleh imam Ali bin Abi Thalib ra. Akhirnya, disepakatilah agar penanggalan Islam ditetapkan berdasarkan hijrah Rasulullah saw dari Mekkah ke Medinah.

Ketika para sahabat sepakat menjadikan hijrah Nabi saw sebagai permulaan kalender Islam, timbul persoalan baru di kalangan mereka tentang permulaan bulan kalender itu. Ada yang mengusulkan bulan Rabiul Awal (sebagai bulan hijrahnya Rasulullah saw ke Medinah pada September 622 M). Namun ada pula yang mengusulkan bulan Muharram. Akhirnya khalifah Umar ra memutuskan awal bulan Muharam tahun 1 Islam/Hijriah bertepatan dengan tanggal 16 Juli 622 M. Dengan demikian, antara permulaan hijrah Nabi sa dan permulaan kalender Islam terdapat jarak sekitar 82 hari.

Jadi, peristiwa penetapan kalender Islam oleh khalifah Umar ra ini terjadi tahun ke 17 sesudah hijrah atau pada tahun ke-4 dari kekhalifahan beliau.

Pemilihan peristiwa Hijrah ini sebagai tonggak awal penanggalan islam memiliki makna yang amat dalam. Seolah-olah para sahabat yang menentukan pembentukan kalender islam tersebut memperoleh petunjuk langsung dari Allah. Seperti Nadwi yang berkomentar:

“Ia (kalender islam) dimulai dengan Hijrah, atau pengorbanan demi kebenaran dan keberlangsungan Risalah. Ia adalah ilham ilahiyah. Allah ingin mengajarkan manusia bahwa peperangan antara kebenaran dan kebatilan akan berlangsung terus. Kalender islam mengingatkan kaum muslimin setiap tahun bukan kepada kejayaan dan kebesaran islam namun kepada pengorbanan (Nabi dan sahabatnya) dan mengingatkan mereka agar melakukan hal yang sama.”


Dari latar belakang sejarah di atas dapat diambil kesimpulan bahwa :

  1. Penetapan bulan Muharram oleh Umar bin khattab ra sebagai permulaan tahun hijriah tidak didasarkan atas peringatan peristiwa hijrah Nabi. Buktinya beliau tidak menetapkan bulan Rabiul Awwal (bulan hijrahnya Rasulullah saw ke Medinah) sebagai permulaan bulan pada kalender hijriah. Lebih jauh dari itu, beliau pun tidak pernah mengadakan peringatan tahun baru hijriah, baik tiap bulam Muharram maupun Rabiul Awwal, selama kekhalifahannya.
  2. Peringatan tahun baru hijriah pada bulan Muharram dengan alasan memperingati hijrah nabi ke Madinah merupakan hal yang kurang pas, karena Rasulullah saw hijrah pada bulan Rabiul Awwal bukan bulan Muharram.
  3. Menyelenggarakan berbagai bentuk acara dan upacara untuk menyambut tahun baru hijriah dengan begadang semalam suntuk, pesta kembang api, tiup terompet pada detik-detik memasuki tahun baru adalah hal yang tidak pernah disarankan agama.

 

Nama bulan dalam Kalender Hijriah

Sistem penanggalan yang dipakai sudah memiliki tuntunan jelas di dalam Al Qur’an, yaitu sistem kalender bulan (qomariyah). Nama-nama bulan yang dipakai adalah nama-nama bulan yang memang berlaku di kalangan kaum Quraisy di masa kenabian. Namun ketetapan Allah menghapus adanya praktek interkalasi (Nasi’). Praktek Nasi’ memungkinkan kaum Quraisy menambahkan bulan ke-13 atau lebih tepatnya memperpanjang satu bulan tertentu selama 2 bulan pada setiap sekitar 3 tahun agar bulan-bulan qomariyah tersebut selaras dengan perputaran musim atau matahari. Karena itu pula, arti nama-nama bulan di dalam kalender qomariyah tersebut beberapa di antaranya menunjukkan kondisi musim. Misalnya, Rabi’ul Awwal artinya musim semi yang pertama. Ramadhan artinya musim panas.

Praktek Nasi’ ini juga dilakukan atau disalahgunakan oleh kaum Quraisy agar memperoleh keuntungan dengan datangnya jamaah haji pada musim yang sama di tiap tahun di mana mereka bisa mengambil keuntungan perniagaan yang lebih besar. Praktek ini juga berdampak pada ketidakjelasan masa bulan-bulan Haram. Pada tahun ke-10 setelah hijrah, Allah menurunkan ayat yang melarang praktek Nasi’ ini:

“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram…” [At Taubah (9): 38]

“Sesungguhnya mengundur-undurkan bulan haram itu adalah menambah kekafiran. Disesatkan orang-orang yang kafir dengan mengundur-undurkan itu, mereka menghalalkannya pada suatu tahun dan mengharamkannya pada tahun yang lain, agar mereka dapat mempersesuaikan dengan bilangan yang Allah mengharamkannya, maka mereka menghalalkan apa yang diharamkan Allah… ” [At Taubah (9): 39]

Dalam satu tahun ada 12 bulan dan mereka adalah:

  1. Muharram
  2. Shafar
  3. Rabi’ul Awal
  4. Rabi’ul Akhir
  5. Jumadil Awal
  6. Jumadil Akhir
  7. Rajab
  8. Sya’ban
  9. Ramadhan
  10. Syawal
  11. Dzulqa’idah
  12. Dzulhijjah

Sedangkan 4 bulan Haram, di mana peperangan atau pertumpahan darah di larang, adalah: Dzulqa’idah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab.

sumber :

http://darussholihinattaufiqi.weebly.com/

http://www.al-habib.info/

APLIKASI “AUTOMATIC PORTABLE WATER FOAM MONITOR” DALAM UPAYA PENANGGULANGAN BAHAYA KEBAKARAN YANG TERJADI DI INDUSTRI DAN PERUMAHAN DALAM MASYARAKAT
Apr 27th, 2015 by hardi santosa

Bahaya kebakaran merupakan bahaya yang kerap terjadi di kalangan masyarakat, baik di lingkungan industri, pertokoan, perumahan, hingga hutan. Pada dasarnya, penanggulangan kebakaran dilakukan dengan cara memutus unsur-unsur pembentuk  api, antara lain: pendinginan (cooling), yaitu memutus  keterkaitan unsur panas dalam suatu bentukan api, penyelimutan (smothering), yaitu memutus keterkaitan unsur udara (oksigen) dalam suatu bentukan api, dan penghentian catu bahan bakar (starvation), yaitu memutus keterkaitan sumber bahan bakar dalam suatu bentukan api. ( PT.Pertamina HSE Corporate, 2010 )

Seiring dengan perkembangan teknologi, telah diciptakan peralatan-peralatan penanggulangan kebakaran sesuai dengan tujuan diatas, walaupun telah tersedia peralatan penaggulangan yang bersifat fixed/tetap (seperti Foam Chamber, Water Sprinkle, dsb.) dengan maksud dapat dioperasikan dari jarak yang cukup jauh agar SDM terhindar dari Fatality & Injury Zone, namun pemadaman kebakaran belum mencapai hasil optimal, hal ini disebabkan oleh banyak faktor yang memungkinkan peralatan fixed tersebut kurang bekerja secara maksimal. Contohnya dengan berat peralatan yang tinggi sehingga diperlukan banyak orang untuk mengoperasikannya dan juga peralatan yang bersifat tidak portable sehingga sulit untuk dikontrol dan dipindahkan ke arah titik api.

Oleh sebab itu, diperlukan adanya support peralatan pemadaman yang dioperasikan secara manual oleh operator pemadam secara langsung, seperti Jet / Spray Nozzle, Foam Trailler, Foam Handline Nozzle, dll untuk kegiatan seperti fighting secara langsung, Main Cooling, Auxilliary Cooling, pencegahan terhadap small spill fire, pendinginan pasca kebakaran, dsb. Namun peralatan tersebut juga dinilai kurang efisien dikarenakan alat tersebut membutuhkan banyak tenaga dari petugas pemadam kebakaran untuk mengoperasikannya. Adapun jika waktu yang dibutuhkan untuk memadamkan kebakaran lama maka dapat menyebabkan operator pemadam kebakaran mengalami kelelahan. Selain itu juga dapat mengancam keselamatan dari pemadam kebakaran jika berada di dekat sumber api dikarenkan adanya ledakan secara tiba – tiba akibat dari kebakaran tersebut.

Sehingga diperlukan sebuah alat yang dapat otomatis bergerak sendiri ke arah sumber api dan dapat dikontrol dari jarak jauh yang akan memberikan banyak keuntungan. Keuntungan yang dapat diperoleh antara lain mengurangi jumlah petugas pemadam kebakaran, menambah optimalisasi operator pemadam kebakaran guna melakukan evakuasi korban kebakaran, dapat menghemat waktu pemakaian alat dan waktu pemadaman, dan dapat lebih efektif dalam upaya memadamkan api kebakaran.

»  Substance:WordPress   »  Style:Ahren Ahimsa